Peristiwa

Sungguh Terlalu ,Warga Diperkusi Preman Di Bandara Hang Nadim

BATAM,DETIKTIPIKORNEQWS.com – Ketika Kericuhan antara taksi online dengan taksi konvensional di Batam seperti tak ada ujungnya.Simpang siurnya regulasi larangan beroperasinya taksi online yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Propinsi Kepri beberapa waktu lalu berimbas ke konsumen bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Kondisi ini memicu tindak anarkis dan semena-mena sekelompok orang yang dengan bebas melakukan perkusi di halaman Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Alhasil masyarakat yang jadi korban salah sasaran.

Salah satunya seorang pengusaha dari Natuna bernama A,E Hermawan, mengaku sudah dua kali diperkusi oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan supir taksi konvensional di bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Kejadian perkusi pertama dialami A.E Hermawan pada Rabu 7 Februari 2018, saat dia tiba di Batam dari Natuna.

” Saat itu saya menngunakan pesawat Sriwijaya air dari Natuna ke Batam dengan nomer penerbangan SJ037, pesawatnya delay dari seharusnya saya tiba pukul 15.20 Wib molor hingga sekitar pukul 17.30 baru landing di bandara Internasional Hang Nadim, ” Jelas A.E Hermawan.

Kepada Gardanusantara A.E Hermawan menceritakan, saat tiba dibandara Hang Nadim A.E Hermawan sempat bertemu dengan rekanan dan duduk menikmati kopi di salah satu kedai dekat pintu kebverangkatan.

Sambil ngobrol dan menikmati kopi, ia mencoba memesan aplikasi daring (taksi online) karena ia tahu dimanapun menggunakan aplikasi tidak ada masalah,

“Saya coba menggunakan aplikasi, ternyata semua supir yang terdaftar di Aplikasi tidak mau menjemput dan menolak masuk bandara, jadi aplikasi saya matikan, saya putuskan kontak keluarga di Batam, yang menyanggupi menjemput saya di bandara, saat itu kondisinya sudah jelang magrib dan sudah sepi di pintu keberangkatan, keluarga ini mengirimkan supir barunya, dan saya minta jemput di kafe tempat saya duduk menunggu, ” Jelas A.E Hermawan di sebuah hotel di kawasan Nagoya, Batam, Sabtu (11/2/2018).

Saat jemputan datang supir keluarga sempat duduk dan berbincang sebentar dan segera ke mobil ynag terparkir di tempat parkir, namun tiba tiba datang beberapa orang berpakaian bebas mengermuni keduanya sambil menghardik menuduh keduanya menggunakan taksi online, padahal posisi kami tidak sedang saling telpon dan handpone tidak berada di saku.

Sekelompok orang itu mempertanyakan apakah mobil yang ditumpanginya menggunakan aplikasi, perdebatan sengit sempat terjadi, beberapa orang beroakaian preman ini berusaha mereka juga menyita ponsel milik A.E Hermawan.

“Saya tanya ini aturan mana, bapak ini siapa? petugas keamanan bandara? polisi atau apa? siapa yang memberi kewenangan menyita dan merampas ponsel? tapi semuanya marah, menghardik dengan nada tinggi dan keras, tidak ubahnya seperti preman, melihat kondisi ini saya ambil keputusan agar membawa masalah ini ke polsek Bandara tak jauh dari lokasi, Dalam pikiran saya waktu itu, kondisi sudah agak gelap, mobil diparkiran jauh dari pantauan aparat kepolisian, jika mobil ini di hancurin, siapa yang bertanggungjawab, karena petugas keamanan bandara tidak terlihat disekitar lokasi, dan sepertinya melakukan pembiaran perkusi ini, sopir keluarga yang ketakutan berhasil mengambil kesempatan ubtuk menghindar dan mnyelamatkan mobil balik kerumah. ” tambah A.E Hermawan menambahkan.

Di Polsek Bandara A.E Hermawan baru mendapat penjelasan dari petugas yang berjaga bahwa taksi online dilarang beroperasi di bandara Hang Nadim, tapi sayangnya saat di konfirmasi kenapa kalau dilarang tidak ada himbauan di Bandara Hang Nadim ?, tidak ada tulisan pengumuman ataupun himbauan pengeras suara di bandara internasional ini pengguna bandara Hang Nadim yang datang dari luar kota manalah tau aturan itu?

” Saya bingung apa salahnya di handpone ada aplykasi taksi online? kan kita tidak gunakan, trus kenapa tidak ada mekanisme pengamanan sehingga para preman bisa seenaknya memeriksa, merampass, dan menggeledah mobil,? jika terjadi apa-apa siapa yang bertangungjawab? oleh petugas yang berjaga pertanyaan saya ini cuma dijawab, mohon maklum lah pak ini kan urusan perut,” Jelas A.E Hermawan.

Setelah tidak terbukti saya menngunakan aplikasi online A.E Hermawan tanpa ada permintaan maaf mereka yang tadinya memperkusi, Petugas yang berjaga melepasnya dengan himbauan sebaiknya menggunakan taksi konvensional saja.

Perkusi yang kedua disaksikan dan dialami A.E Hermawan dua hari berikutnya pada tanggal 9 Februari kemarin saat ia kembali berkunjung ke Batam menggunakan Citilink QG 942 dari Jakarta yang landing pukul 14.00 belakangan baru disadari waktunya hampir bersamaan dengan kedatangan Kapolri k Batam melalui Bandara Hang Nadim.

Namun kedatangan kedua ini telah diantisipasi oleh A.Hermawan dengan menghapus aplikasi taksi online di ponselnya.

Saat Agung ingin keluar dari kawasan bandara, ia menyaksikan seorang ibu-ibu di perkusi dan diperlakukan tidak manusiawi oleh sekelompok orang.

“Padahal dia seorang wanita, diperkusi ditarik dari dalam mobil, padahal ibu itu sudah bilang, itu keluarganya yang menjemput, ibu itu menangis, tapi saya enggak bisa apa-apa, kenapa? saya tidak melihat ada aparat disitu,” tutur A.E Hermawan sambil dia memperlihatkan kepada gardanusantara , video kejadian tersebut yang sempat dia rekam melalui ponselnya.

Meski video yang direkamnya itu singkat, tapi bisa menjadi bukti perkusi saat ini memang ada dan marak terjadi di bandara Hang Nadim Batam.kondisi mobil baret setelah kejadian perkusi di bandara Internasional Hang Nadim Batam

Beberapa menit setelah kejadian perkusi kepada wanita tengah baya itu, mobil jemputan A.E Hermawan sampai di bandara dan kali ini yang yang menjemput adalah rekanan bisnisnya seorang tokoh pengusaha yang cukup dikenal di Batam.“Lucunya, ketika saya masuk ke mobil, saya juga diperkusi kembali,” katanya.

Meski orangnya berbeda, perlakuan kasar yang sama seperti kejadian pertama kembali dialami A.E Hermawan. dengan nada keras salah satu dari pelaku perkusi kepada seorang wanita paruh bawa berlari sambil menunjuk dan berteriak bahwa mobil ynag ditunpangi juga taksi online,

beberapa orang di langsung meragsek kekanan dan kiri mobil, pintu mobilnya duibuka dan digeledah, sekelompok orang, ponselnya dirampas, mereka juga membentak dan berteriak dengan nada yang keras.

Bukti denda tiket parkir setelah mengalami perkusi di bandara Hang Nadim BatamA.E hermawan mencoba protes dan mengancam akan melaporkan tindakan semena-mena mereka itu ke pihak berwajib.

Namun, mereka tidak mengindahkan ucapan Agung, mereka tetap bersikeras memeriksa ponsel milik A.EHhermawan. Tapi tidak menemukan aplikasi yang mereka cari.

Tak hanya perlakuan kasar saja yang dialaminya, setelah sampai digerbang parkir bandara, rekan bisnisnya baru menyadari bahwa tiket parkirnya mobilnya hilang.

“Kami dikerjaian, tiket parkirdi dasboard ternyata raib, entah mereka ambil dari dashboard mobil, atau ketiaupngin saat mereka menggeledah kami tidak tau ,akibatnya saya kena denda dari seharusnya bayar parkir 3 ribu menjadi 25 ribu, Bukan masalah angkanya, tetapi ini membuktikan perkusi ini merugikan konsumen bandara, coba bayangkan ribuan orang yang datang di bandara mengalami ini, berapa lama negara akan membiarkan hal seperti ini, Otoritas bandara Internasional Hang Nadim melakukan pembiaran, sangat todak masuk akal ” sesal A.E Hermawan

Sampai ditempat rapat, kami tertunduk lemah ketika melihat mobil ternyata pintu mobil sudah baret (tergores) dikanan dan kiri yang pada awalnya tidak ada.

“Pertanyaannya, saya mau menyalahkan siapa, apakah saya salahkan orang perkusi, apa salahkan pengelola bandara, pihak keamanan, kepada siapa saya harus mengadu, Intinya, saya menyayangkan otoritas pengelola bandara dan kepala daerah Kepri yang bertanggungjawab membuat ricuh kondisi ini, sampai kapan akan dibiarkan, Ini pelanggran Hak Azasi manusia, pelanggaran Undang-undang, harus berapa ribu konsumen bandara hang Nadim mengalami perkusi sebelum pemerintah bertindak? berdosa besar membiarkan orang tidak bersalah harus menangung akibat kebijakan yang merugikan konsumen ini, yna bermasalah itu taksi online dengan taksi konvensioanal, masyarakat pengguna bandara hang nadim jangan lah dibiarkan jadi korban,? ” kata A.E Hermawan menutup wawancara.

Reporter : ( red)

Editor :Zulham

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top